Published April 1, 2017 | Version v1
Book Open

Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku

  • 1. Universitas Negeri Surabaya

Description

Pertama, buku ini saya kembangkan dari semboyan menulis yang saya tetapkan pada tahun baru 2014, yakni “Menulis atau Mati!” (write or die!). Di luar sepengetahuan saya, Scott Nicholson juga memberi judul bukunya yang sangat menggugah, ‘Write Good or Die: Survival Tips for the 21st Century”. Nicholson, dalam merampungkan bukunya, pastilah telah menerapkan semboyan yang kemudian mengejawantah menjadi judul buku tersebut. Ada kekuatan tak terkendalikan ketika sebuah semboyan bekerja mempengaruhi dan menguatkan seorang penulis.

Bagi saya sendiri, semboyan “Menulis atau Mati!” saya adaptasi dari semangat semboyan Arek-Arek Surabaya ketika mempertahankan negeri tercinta, yakni Merdeka atau Mati! Pada tahun 1945 perjuangan Arek-Arek Surabaya telah diperkuat dengan semboyan yang diteriakkan bertalu-talu lewat radio oleh Bung Tomo. Dan itu berhasil, tentu dengan izin Tuhan. Maka, semangat ini saya adaptasi menjadi “Menulis atau Mati!”. Dengan semboyan ini, saya berharap mewarisi semangat para pejuang dalam konteks berbeda, bukan dalam mengusir tentara Inggris, melainkan dalam menulis. 

Selanjutnya, saya memberikan makna lebih pada semboyan “Menulis atau Mati!” itu, yakni kewajiban menulis. Dalam pemahaman saya terhadap firman Tuhan dalam QS. Al-‘Alaq: 1-5, menulis (uktub) itu sama wajibnya dengan membaca (iqra). Allah-lah yang mengajarkan (menulis) dengan pena. Mengapa wajib? Sebab, kewajiban membaca diperintahkan Tuhan agar manusia membaca sesuatu, yakni qalam. Sementara itu, qalam perlu disediakan dengan menulis (uktub). Meski membaca di sini bermakna luas, bukan sekadar teks tertulis, kehadiran qalam yang tertulis mutlak diperlukan untuk memuaskan pembaca. Maka, saya wajib menulis, sebagaimana saya juga wajib membaca. Sebagai sebuah kewajiban, menulis harus saya tunaikan. Terus terang, saya takut akibat dosa yang harus saya tanggung seandainya saya tidak menulis. Inilah hakikat semboyan yang telah menguatkan saya.

Other (English)

First, I developed this book from the writing motto I set in the new year 2014, namely "Write or Die!" (write or die!). Unbeknownst to me, Scott Nicholson also titled his book very evocatively, 'Write Good or Die: Survival Tips for the 21st Century”. Nicholson, in completing his book, must have applied the motto which later became the title of the book. There is uncontrollable power when a slogan works to influence and strengthen a writer.

For me, the motto "Write or Die!" I adapted it from the spirit of Arek-Arek Surabaya's motto when defending our beloved country, namely Freedom or Death! In 1945 the struggle of Arek-Arek Surabaya was strengthened by the slogan shouted over the radio by Bung Tomo. And it worked, of course with God's permission. So, I adapted this spirit into "Write or Die!". With this motto, I hope to inherit the spirit of the warriors in a different context, not in driving out the British army, but in writing. 

Next, I gave more meaning to the motto “Write or Die!” That is the obligation to write. In my understanding of God's word in QS. Al-'Alaq: 1-5, writing (uktub) is as obligatory as reading (iqra). It is Allah who teaches (writing) with a pen. Why is it mandatory? Because, the obligation to read was ordered by God so that humans read something, namely qalam. Meanwhile, qalam needs to be provided by writing (uktub). Even though reading here has a broad meaning, not just written text, the presence of written qalam is absolutely necessary to satisfy the reader. So, I am obliged to write, just as I am also obliged to read. As an obligation, I have to fulfill writing. Frankly, I'm afraid of the consequences of my sins if I don't write. This is the essence of the motto that has strengthened me.

Files

Buku Write or Die_merged.pdf.1-28.pdf

Files (10.6 MB)

Name Size Download all
md5:d97d3d62e43c1f873b2337448e5084f6
10.6 MB Preview Download

Additional details

Identifiers

ISBN
978-602-0891-46-0

Dates

Copyrighted
2017-04-01