Published February 22, 2022 | Version v1
Book Open

Kain Tenun Tradisional Sumatera Utara: Seri Hiou Simalungun

Authors/Creators

  • 1. Universitas Sumatera Utara

Contributors

Contact person:

  • 1. Universitas Sumatera Utara

Description

Di  propinsi Sumatera Utara, keberadaan tenun tradisional ada  dikenal pada beberapa kelompok etnik antara lain  dikenal dengan nama  Ulos Batak Toba, Uis (Karo)  Oles (Pakpak), Hiou (Simalungun) tenun Batubara dan lainnya. Berdasarkan data dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2009, di Sumatera Utara  secara umum tenun tradisional di Sumatera Utara  dikawatirkan  proses  regenerasi penenun  (keahlian menenun) dan keahlian  membuat  ragam hias (motifnya),  berjalan sangat lambat.  Jumlah penenun yang sebagian besar sudah tua (umur 50 tahun ke atas) semakin sedikit, sementara regenerasi penenun berjalan lambat karena kurangnya minat di kalangan remaja dan kurang popular bertenun bagi  kaum muda saat ini. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya pengetahuan generasi muda akan keberadaan tenun tradisional. Informasi selanjutnya dari Dekranas Sumatera Utara, adalah tentang keahlian pembuat motif  tenun dewasa ini  bisa dihitung dengan jari (tidak ada data dalam angka yang pasti), dan itu sangat memprihatinkan,   

Kondisi seperti yang dijelaskan diatas, bila berlangsung terus-menerus diperkirakan akan menyebabkan keberadaan tenun tradisional  tidak bertahan sebagai sebagai warisan budaya. Tidak saja ketrampilan menenun yang akan lenyap, tetapi gagasan dan ide-ide yang mendasari pengetahuan, nilai kreatif dan estetika serta kekhasan ragam hias yang bercirikan kelompok etnik setempat juga akan turut hilang.

Hal  lain yang membuat berkurang minat masyarakat secara umum pada bahan kain tenun tradisional adalah  mulai  tergesernya fungsi  kain tenun tradisonal sebagai bahan pakaian sehari-hari. Secara umum pada berbagai kelompok etnik kain tenun tradisional lebih banyak dimanfaatkan  busana adapt.  Kebutuhan  akan kain tenun hanya terbatas untuk konsumsi adapt saja, sehingga setiap orang dan keluarga, cukup memiliki beberapa helai kain tenun.

Semakin berkurangnya fungsi kain tenun tradisional sebagai bahan pakaian sehari-hari,  terutama  disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, dengan berkembangnya  produksi bahan pakaian buatan pabrik yang menggunakan mesin-mesin tenun modern, menyebabkan  berkurangnya  produksi tenun tradisional. Bahan pakaian dari tenunan tradisional  telah digantikan dan digeser oleh  bahan pakaian modern yang sudah diproduksi dalam jumlah besar oleh pabrik  dengan beraneka ragam corak dan bahan, serta warna yang mudah ditemukan dimana-mana.

Melihat berbagai kenyataan tentang menurunnya regenerasi tenun di Sumatera Utara,  pemerintah propinsi Sumatera Utara sejak beberapa tahun terakhir ini berusaha terus meningkatkan sosialisasi perlunya mempertahankan dan mengembangkan  kerajinan tenun tradisional etnik yang ada di Sumatera Utara. Usaha konkrit yang telah dilakukan adalah dengan melaksankan  berbagai pelatihan bertenun yang didanai oleh departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara.

Files

Files (41.4 MB)

Name Size Download all
md5:171bfe3e1b29c5c96f078bf3f309d0a4
41.4 MB Download