Kain Tenun Tradisional Sumatera Utara: Seri Hiou Simalungun
Description
Di propinsi Sumatera Utara, keberadaan tenun tradisional ada dikenal pada beberapa kelompok etnik antara lain dikenal dengan nama Ulos Batak Toba, Uis (Karo) Oles (Pakpak), Hiou (Simalungun) tenun Batubara dan lainnya. Berdasarkan data dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2009, di Sumatera Utara secara umum tenun tradisional di Sumatera Utara dikawatirkan proses regenerasi penenun (keahlian menenun) dan keahlian membuat ragam hias (motifnya), berjalan sangat lambat. Jumlah penenun yang sebagian besar sudah tua (umur 50 tahun ke atas) semakin sedikit, sementara regenerasi penenun berjalan lambat karena kurangnya minat di kalangan remaja dan kurang popular bertenun bagi kaum muda saat ini. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya pengetahuan generasi muda akan keberadaan tenun tradisional. Informasi selanjutnya dari Dekranas Sumatera Utara, adalah tentang keahlian pembuat motif tenun dewasa ini bisa dihitung dengan jari (tidak ada data dalam angka yang pasti), dan itu sangat memprihatinkan,
Kondisi seperti yang dijelaskan diatas, bila berlangsung terus-menerus diperkirakan akan menyebabkan keberadaan tenun tradisional tidak bertahan sebagai sebagai warisan budaya. Tidak saja ketrampilan menenun yang akan lenyap, tetapi gagasan dan ide-ide yang mendasari pengetahuan, nilai kreatif dan estetika serta kekhasan ragam hias yang bercirikan kelompok etnik setempat juga akan turut hilang.
Hal lain yang membuat berkurang minat masyarakat secara umum pada bahan kain tenun tradisional adalah mulai tergesernya fungsi kain tenun tradisonal sebagai bahan pakaian sehari-hari. Secara umum pada berbagai kelompok etnik kain tenun tradisional lebih banyak dimanfaatkan busana adapt. Kebutuhan akan kain tenun hanya terbatas untuk konsumsi adapt saja, sehingga setiap orang dan keluarga, cukup memiliki beberapa helai kain tenun.
Semakin berkurangnya fungsi kain tenun tradisional sebagai bahan pakaian sehari-hari, terutama disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, dengan berkembangnya produksi bahan pakaian buatan pabrik yang menggunakan mesin-mesin tenun modern, menyebabkan berkurangnya produksi tenun tradisional. Bahan pakaian dari tenunan tradisional telah digantikan dan digeser oleh bahan pakaian modern yang sudah diproduksi dalam jumlah besar oleh pabrik dengan beraneka ragam corak dan bahan, serta warna yang mudah ditemukan dimana-mana.
Melihat berbagai kenyataan tentang menurunnya regenerasi tenun di Sumatera Utara, pemerintah propinsi Sumatera Utara sejak beberapa tahun terakhir ini berusaha terus meningkatkan sosialisasi perlunya mempertahankan dan mengembangkan kerajinan tenun tradisional etnik yang ada di Sumatera Utara. Usaha konkrit yang telah dilakukan adalah dengan melaksankan berbagai pelatihan bertenun yang didanai oleh departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara.
Files
Files
(41.4 MB)
| Name | Size | Download all |
|---|---|---|
|
md5:171bfe3e1b29c5c96f078bf3f309d0a4
|
41.4 MB | Download |