Rumput Laut Nusa Lembongan Sebagai Inovasi Edible Plastic Dengan Antioksidan Jeruk
Description
Bali merupakan salah satu pulau populer di Indonesia. Pulau ini adalah rumah dari banyaknya kebudayaan dengan bentang alam yang menarik, menjadikannya tujuan wisata favorit bagi pelancong domestik hingga mancanegara. Kebudayaannya yang unik tidak lepas dari pengaruh kegiatan keagamaan. Bali yang sering dijuluki sebagai “Pulau Seribu Pura” memiliki mayoritas penduduk yang menganut agama Hindu. Umat Hindu di Bali tak pernah terlepas dari kegiatan upacara adat keagamaannya yang menggunakan sarana banten sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Banten suci yang meliputi Jaja suci adalah salah satu jenis sarana yang digunakan dari sekian banyaknya yang ada dalam suatu rangkaiannya upacara yadnya. Dalam Lontar Tutur Sang Hyang Tapeni dijelaskan bahwa banten suci adalah sarana upacara yang digunakan dalam upacara Dewa Yadnya (Wulandari, et al., 2023).
Seperti halnya, masyarakat Bali yang telah terpengaruh oleh modernisasi dan globalisasi, penyajian jaja suci pada Banten juga tidak luput dari transformasi. Secara signifikan, modernisasi telah merubah tata cara pembungkusan jaja suci pada banten agar lebih higienis dan praktis. Saat ini, mayoritas jaja suci telah dibungkus dengan menggunakan plastik untuk mencegah kerusakan jaja suci secara cepat. Namun, semakin banyaknya penggunaan plastik untuk membungkus jaja suci, maka semakin banyak pula limbah plastik yang ikut terproduksi. Limbah pada pura di Bali memiliki potensi besar untuk menimbulkan masalah penumpukan sampah, peningkatan tingkat pencemaran. Tingginya penggunaan barang sekali pakai oleh masyarakat saat mengunjungi pura, seperti plastik pembungkus jajanan suci dan kantong plastik, menyebabkan peningkatan jumlah limbah yang baru bisa terurai dalam kurun waktu yang sangat lama. Setiap tahunnya, produksi sampah di Bali semakin meningkat.