Penonton Teater Sandiwara Amal Sebagai Fenomena Budaya
Description
Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia Padangpanjang
saaduddin@isi-padangpanjang.ac.id
ABSTRAK
Sandiwara Amal merupakan bentuk teater rakyat di Dusun Pulau Belimbing II, Desa Kuok, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Sandiwara Amal merupakan salahsatu bentuk teater rakyat yang masih hidup di Sumatera. Berkembang semenjak tahun 1950-an. Sandiwara Amal selalu disajikan setiap tahun pada minggu pertama perayaan Idul Fitri. Sebagai salahsatu teater rakyat, partisipasi penonton yang sangat besar merupakan penanda bahwa kesenian ini telah hidup sebagai penanda kebudayaan masyarakatnya. Ini memperlihatkan bahwa, partisipasi penonton dalam tontonan memiliki relasi yang kuat sebagai penanda terbangunnya nilai gotong royong kebudayaan. Masyarakat sebagai pemilik kebudayaan tidak terlepas dari perannya dalam pengembangan dan pewarisan kebudayaan tersebut. Inilah yang dapat dilihat sebagai perbandingan pada Sandiwara Amal. Semenjak Pandemi Covid-19 hingga 2022, terdapat berbagai hipotesa bahwa, kesenian rakyat memiliki kekuatan adaptasi untuk terus bertahan dalam kondisi apapun. Dan Sandiwara Amal dalam kondisinya di masa pandemic akan memperlihatkan kekuatan dan upayanya untuk dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan yang ada.
Daftar Pustaka dan Rujukan
Brett, J. M. (2017). Culture and negotiation strategy. Journal of Business and Industrial Marketing, 32(4), 587–590. https://doi.org/10.1108/JBIM-11-2015-0230
Hasan, H., & Saaduddin, S. (2015). Fungsi Sandiwara Amal Di Masyarakat Desa Pulau Belimbing, Kec Bangkinang Barat, Kab Kampar Provinsi Riau. Ekspresi Seni, 17(1), 1–19. https://doi.org/10.26887/ekse.v17i1.25
Murdowo, S. (2006). Objektivitas Imajinasi Dalam Seni. Imaji, 4(1), 114–120. https://doi.org/10.21831/imaji.v4i1.6706
Saaduddin, Novalinda, S., & Alfareta, T. (2021). Travesty: The Expression of the Agrarian Society as Cultural Negotiation at the Amal Play at Pulau Belimbing II Sub-Village, Kuok Village, Kuok District, Kampar Regency, Riau Province. Proceedings of the 4th International Conference on Arts and Arts Education (ICAAE 2020), 552(Icaae 2020), 183–187. https://doi.org/10.2991/assehr.k.210602.036
Saaduddin, S. (2022). Penonton Sebagai Sebuah Fenomena Budaya. https://doi.org/10.5281/ZENODO.6471822
Saaduddin, S., Novalinda, S., Yuliza, F., & Pramayoza, D. (2019). TEATER BONEKA WAYANG SAYUR : PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI. Batoboh: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 5458(2), 161–173. https://doi.org/10.26887/bt.v4i2.2500
Cochrane, C. (2003). The contaminated audience: Researching amateur theatre in Wales before 1939. New Theatre Quarterly, 19(2), 169-176.
Jensen, K. B. (1987). Qualitative audience research: Toward an integrative approach to reception. Critical Studies in Media Communication, 4(1), 21-36.
Livingstone, S. (2013). The participation paradigm in audience research. The communication review, 16(1-2), 21-30.
Napoli, P. M. (2012). Audience evolution and the future of audience research. International journal on media management, 14(2), 79-97.