Di antaranya saya pernah ditahan di kantor polisi
karena saya tertangkap membawa kayu.
Itu yang saya tidak bisa lupakan.
Saya kira kami adalah saksi mata.
Waktu kami masing-masing,
kami adalah penjelajah hutan.
Dan kami melihat betapa sejahteranya masyarakat yang tinggal di sekitar hutan,
karena hutan ini masih bagus.
Setiap mau naik gunung,
kita selalu diberikan makanan yang luar biasa lezat,
yang diabili dari hutan dan sungai mereka.
Tapi kemudian setelah masuk illegal logging,
kemudian masuk orang babat hutan itu,
tidak ada lagi kebahagiaan itu.
Mereka kehilangan digniti sebagai pemilik tanah di situ.
Karena tidak ada lagi yang bisa digusahkan.
Jadi mereka kemudian semacam melacurkan dirinya
untuk menjadi pelaku illegal logging.
Lalu saya sambil habis kerja salah,
sambil jadi buru untuk pikul-pikul kayu di hutan.
Kalau setiap hari itu paling tidak 25 batang, Pak.
1 hari itu mulai dari jam 7 sampai jam 4 sore.
Tetapi secara mulai jelas,
kita punya rasa malu.
Tetapi kita kerana lingkungan
dan kita tertingan dengan kebutuhan.
Sudah sejak tahun 1997,
telapak bekerja untuk melakukan investigasi
dan monitoring pengolahan hutan di Indonesia.
Sekarang ini,
telapak menemukan cara bekerja dengan para pelaku illegal logging
untuk menransform mereka
menjadi pelaku pengolahan hutan di Indonesia.
Hal terberat dari sebuah komuniti logging
adalah bagaimana mengorganisi rakyat.
Ini bagian yang paling penting dan paling berat untuk dibuat.
Tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan.
Bukan pekerjaan 1-2 hari.
Ini pekerjaan mungkin berbulan-bulan.
Karena kita harus membangun kelembangan masyarakat,
membangun mimpi bersama masyarakat,
membangun aturan main,
membangun konflik resolusi sistem.
Kami mencoba memberikan pengarahan
serta penjelasan sesuai dengan
bagaimana sebenarnya menjalankan kooperasi
dan sebenarnya kooperasi.
Bukan hanya keduanya yang untung dulu
tapi seluruh anggota itu bisa menikmati hasil
dan diperoleh dari kooperasi sendiri
melalui SIU Sisa Asil Usaha.
Yang paling membanggakan,
yang mengemarakan, yang pertama,
saya bisa merobah sikap,
sikap hidup
dari area logging
kepada komenti logging.
Selama proses kooperasi ini,
namanya ada rejikinya dari Tuhan,
pembeli kain itu,
dari sepeda kami sudah bisa beli motor,
sudah bisa memilih tanah,
sudah bisa memilih tanah,
sudah bisa memilih tanah,
sudah bisa memilih tanah,
sudah bisa memilih tanah,
sudah bisa memilih tanah.
Mereka, jadi yang dulu
orang hanya banggakan
hape dengan yang
sedikit bagus
atau kelas kota sekarang,
bukan orang anak muda sekarang itu
tidak bangga lagi dengan itu, tapi lebih bangga
kalau dia punya
lahan satu hektar atau setengah hektar
tanaman jati.
Kita mencontoh orang lain.
Kita pun sudah mencontoh,
kita pun mampu memberi contoh kepada orang lain.
Sekarang saatnya,
kita meng-scale up
membangun kooperasi dari Aceh sampai Papua.
Mari kita selamatkan
hutan dunia, kita mulai dengan
mengangkat digniti
dari para masyarakat Indonesia yang tergabung
dan terima kasih.
