Sekarang karena politik katakan itu bukan lengken.
Lengker di Banyuma sekarang berada pada posisi pertahan.
Di sebuah bilik rumah di desa Soma Katon Kabupaten Banyumas, jawa tengah, daria dibantu astuti dan sariah mulai bersolik.
Hari ini iakan pentas, meski pentas itu sendiri bukan dipanggung yang padat dengan penonton,
Melayinkan dipanggung sederhana di lingkungan kampungnya sendiri.
Di atas panggung daria berlengkok dengan tubuhnya yang rentah.
Di atas panggung daria berlengkok dengan tubuhnya yang rentah. Daria menari tak selincah lagi seperti generasi penerusnya.
Astuti, Sariah, ataupun Agus, Lengker Lanang yang memiliki nama panggung Agnes.
Daria adalah sosok penari Lengker Lanang atau laki-laki yang masih bertahan hingga kini di Banyuma. Di usiannya yang memasuki 80 tahun itu,
ia mulai terasa rentah, tak lagi seperti daria puluhan tahun lalu.
Tari Lengker melambangkan kesuburan, merupakan kesenian tua yang menjadi sejarah kesenian bagi masyarakat Banyumas.
Komunitas terkait Lengker menganggapnya sakral dan juga tak mudah bagi seseorang untuk menjadi penari Lengker.
Butuh persyaratan dan upacara khusus untuk penobatan seseorang bisa menjadi penari Lengker.
Jadi Lengker itu harus banyak tirakat sampai orang tua bilang, ya kalau ada di sonima, ya madang longan, turu longan.
Pertama waktu pertama itu saya disuruh setiap hari kelahiran aku sendiri.
Hari Jumat sudah mulai puasa, satu hari sore buka, terus hari satu lagi puasa lagi sore buka lagi,
terus hari minggunya sampai hari senen selesai.
Terus udah ngelakuni puasa, terus suruh lagi ngasrep, namanya ngasrep itu makan tapi yang mengadung garam, terus perempuan-perempuan nasi, nasi putih,
terus daun singkongnya cuma direbus begitu doang.
Terus pati gini, pati gini saya udah ngelakuni juga yang makanan nggak dimasak.
Wemanya kita makan singkong ya mentahan, pisang ya mentahan gitu, nggak direbus, nggak apa-apa gitu.
Terus disuruh lagi mutih, kalau mutih itu mau berat sekali 3 hari, terus makan cuma satu hari satu kepel,
kalau orang banyak mas kepel ya, satu kepelnya sendiri, terus minum satu gelas cuma satu hari gitu, sampai 3 hari juga.
Terus sampai dibilang ya gitu, ngerakeh, ngerakeh ya, ngerakeh itu makan dari, apa ya ya, buah-buahan ya,
terus kalau itu namanya bulan sura, sampai satu bulan aku disuruh nggak makan yang dari asal dari beras,
kalau sayur-sayuran itu boleh, budin itu boleh, tapi jangan asal dari padi gitu, satu bulan ke full.
Kita ngelakuni, kata orang tua biar kita punya indang, punya aura gitu.
Kesenian lengger adalah kesenian daerah pinggiran jauh dari pusat pemerintahan pada saat itu.
Karakternya yang cablaka menjadi bukti sikap asertif masyarakat pendukungnya.
Ia menjadi bukti perlawanan pasif yang dilakukan masyarakat kelas bawah terhadap kerajaan yang centralistik.
Namun, apakah langger dapat bertahan pada jaman modern saat ini?
Dibanyoma sekarang berada pada posisi bertahan, dan dalam posisi bertahan ini mereka mengusahkan suatu bentuk-bentuk baru,
misalnya dengan menambahkan ke dalam pentas rong yang itu lagu-lagu yang bukan rong yang lagu-lagu.
Bahkan peralatan musiknya juga banyak yang sudah memasukkan kipor ke sini dan juga pentasnya campur-campur dengan lagu-lagu campur-sari.
Saya kira memang harus diadakan pembaharuan-pembaharuan supaya bisa bertahan.
Karena apa?
Langger ini sepenuhnya berbahasi pada alam pertanian, alam agraris.
Ketika kita sudah bergeser ke alam industri, banyak hal yang harus ditinggalkan atau terpaksa tertinggal,
misalnya parikan atau nyanyian yang merupakan bagian sangat penting dalam jenis langger, banyak generasi muda sekarang yang tidak tahu.
Misalnya ada pantun-pantun jawa yang berbunyi, wakul kayu, cepone, wadah, pengaruh.
Itu anak muda sekarang tidak mengerti wakul apa, cepone apa, pengaruh apa, sudah tidak ada tahu.
Jadi bagaimana akan masuk bisa penghayatan penuh kalau banyak sekali kata-kata dalam nyanyian langger yang anak sekarang tidak tahu.
Saya sebenarnya berpikir pada pangerawit-pangerawit muda mengapa tidak menciptakan lagu-lagu leger dalam bahasa yang lebih dikenal oleh masyarakat atau dalam alih bahasa gaul.
Apa salahnya? Jangan terlalu klasik orientasi, tapi kita bisa melihat ke depan realistis karena kita memang menghadapi perubahan yang sangat cepat.
Dan saya kira di Banyumas ini sudah ada usaha untuk itu. Misalnya ada tari langger yang diubah menjadi gambiyong banyumasan.
Ini tohnya ini, Yusmanto ini. Ada lagi tari langger Gipiak itu malah sudah ditarikan oleh para santri.
Ketika ada Festival Tilapatul Kur'an itu dibuka dengan langger Gipiak. Langgernya berpakian kaos ketat langkap jadi tidak terbuka.
Lalu terbaru ada lagi langger Salengseh, Salung Langger Barongseh di Kampung Seperturi.
Saya kira tidak apa-apa di kembangan seperti itu, tapi juga perlu ada yang tetap klasik walaupun dalam bentuk dokumentasi.
