KAMU MENUKAN MENUKAN
Orang gila itu biasanya, biasanya dia kalau sudah...
apa, ditemukan oleh kato sial kadang-kadang, dia itu sial kalau gak nge-guarga.
Ya gimana ya? Saya merasa lihatin gak?
Mungkin dia akan penampungan apa.
Oh enggak, kenapa? Kalau di Gorda itu mungkin marahin.
Kalau gak mau ngantem, ya jantan juga.
Gak kasihan?
Gak, habis itu ya kasihan.
Gak mau itu, Pak.
Kalau gak mau, ya payah itu.
Gak, gak ngantem.
Misalkan ada mantan rendita gangguan jiwa yang depan.
Gak berani.
Gak berani.
Kenapa?
Gak berani.
Mungkin dia habis kemarin.
Baru, baru.
Sini, sini, sini, sini.
customized right?
gangguan jiwa kata pottery.
40 kan, tapi dai.
N às dealer.
di kamung atau padam
ya menurut saya namanya manusia nih
perlu di atasih
harus itu menurut saya
jadi kebanyakan orang tua tuh kurang perhatian gitu
cuma ya taro di sini ya ada juga yang perhatian ya ada
cuma kalau ditumbuh itu
paling enggak 60% cuma yang perhatian
nggak ini anak semua
sempurna sudah
saya tuh kalau anak dikatakan sebuah
satu dilihat dengan wajarannya
dua pri lakunya
itu, lo sudah busi tip usia budah
itu saya
2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 9, 10
di bilang gini
tau, mondok ya ke sana, ke desa katanya
ngapain mondok ke desa
saya sudah enggak mampu mondok-mondok
saya bilang begitu, mondok apa sih
dah, saya bilang nggak mau saya ngelawan
pokoknya mondok jadi berkelai saya
akhirnya saya dibilang kayak orang gila saya
dibilang orang setres saya
itu
dibilang
ya jadinya temen-temen saya itu seperti jadi gimana ya
secara pelahan-pelahan, pisah dengan saya ketakutan
sudah
tau, besok kamu pergi ke Surabaya
ya berobat katanya, enggak, enggak mau
apa sih yang namanya berobat
saya juga berobat disini juga saya ini bukan yang
di rumah ini, saya ini di rumah ini
saya bukannya saya malas berobat
saya bilang, balik, balik tiap minggu, tiap bulan, tiap tahun
saya dari rumah sakit ini apanya
sekarang saya ingin tanya
yang namanya orang sakit berobat itu yang bagaimana
semua itu namanya orang sakit, yang namanya orang sakit
itu berobatnya dengan obat-obatan
saya bilang itu
nggak bisa
ya ibu sayaernya sedih, nangis-nangis
sedih
ibu saya nangis, rumahnya hape habis
semuanya hampir diambrui semua saya
yang hampir ikut-ikut ngambrui mecah-mecah itu
ya sudah saya nekat akhirnya
akhirnya saya nekat saya bilang
ya sudah maaf ibu saya maaf ibu saya bilang
kapan bisanya jalan saya bilang begitu
ya kalau memang hari ini, hari ini saja
hari ini saya jalan kesini saya
itu ternyata anak saya keponakan, ingin meminta turun
saya suruh menemui saya, saya akan menurunkan
kelaran di loh badaron adu ya saya ya
saya pernah diikat, dia kan teriak-teriak itu ya
pas saya SMP itu dulu, saya itu diikat
saya ingat sedikit-sedikit saya
terus diikat itu malam-malam terus lepas sendiri
saya lepaskan sendiri
talinya itu lepas
terus akhirnya saya dibindar di dapur itu
ada kamar, di dapur, di dalam dapur itu
itu pas saya SMP anak dulu itu, telanjang-telanjang dulu ya
masih SMP, kelas dua ini, lambu anak
jadi dengar di kelas dua SMP
sebuah pulang, kelas SMP lagi kelas tiga
kumpul lagi, jadi ternyata kalah sifatnya
mau ada anak sakit lagi saya
terus ke Pak Haji bahwa versi ini dua pulan
pas SMP itu langsung dipindah sekolahnya
gua ternyata orang tua itu nanti
di Caji Maki itu
pindah di Mocokerto itu
dua kali itu di SMP Islam
terus pindah lagi ke SMP Hei Kamana Dewasa
ya pengalamannya itu kan
apa ya
ada tersisik gitu loh merasa
kan saya sudah pernah sakit gitu ya
kayaknya teman-teman itu gimana gitu
karena saya tuh
menjauh gitu
saya tuh nggak boleh sama temen-temen ikut dude
karena saya...
saya tuh reporter
hariרת
saya tuh nggak boleh sama temen-temen ikut gitu
Karena acara pengurus perpus itu ikut,
enggak boleh saya itu.
Terus saya ngomong ini kan kegiatan perpus.
Kan apa saya ditukaskan,
jaga perpus ya kan harus ikut gitu.
Mali itu.
Minta saya.
Ya itu ah saya yang paling saya mangkel itu ya.
Saya degil dan enggak bisa apa-apa terjadi.
Pernah ada rasa-rasa gitu.
Terasa, enggak enggak usah kesana, enggak bisa apa-apa gitu.
Saya dengar, oh berarti anak-anak enggak nanggap saya sudah.
Sudah saya enggak keruangan itu saya tetap jaga di sana di perpus gitu.
Saya anu ya, bandingkan dengan sebelum nikah itu jauh sudah.
Penyakitnya itu sudah agak ringan.
Setanah waktu dia belum nikah itu penyakitnya sangat parah.
Katanya, Pak Haji itu walaupun penyakitnya itu sangat parah.
Alhamdulillah masih bisa disembuhkan.
Sal itu sabar katanya, itu puncinya sabar dan
mau menjalani apa terapi di sini.
Alhamdulillah walaupun katanya orang istri saya ini mantan orang sakit jiwa.
Tapi bagi saya itu cukup mendatangkan ketenangan.
Kalau masalah bilang sembuh, saya itu sudah merasa percaya sembuhnya
dari tahun baru datang sini itu.
Waktu pertama datang ke sini itu, waktu tahun 1996-1997 itu.
Tapi maaf juga ya saya enggak percaya yang namanya saya ini penyakit jiwa
atau sakit gila atau stres.
Kalau sudah pulang dari sini, saya ingin disana.
Saatannya memang saya itu sebenarnya punya pintar juga.
Satu ingin jadi montir, anak buahnya lah.
Bukan ingin yang tinggi-tinggi saya.
Dua ingin jadi kalau enggak klinik servis, setekang sapu.
Tiga, saya ingin jadi penjaga, kayak macam hansip-hansip.
Ampat kalau memang saya ini diberi modal oleh saudara, oleh siapa lah pokoknya.
Pokoknya oleh manusia yang kira-kiranya ingin bayi.
Kira-kira presiden lah kayak macam dapat uang apa namanya.
BBM itu saya ingin belajar sekolah menyetir,
nggak supir bis, nggak supir truck, nggak supir apaan, nggak supir apa.
Pokoknya kalau saya jamin, bisa selamat mobilnya.
Gitu saja.
Cuma ada masalah tempoh haritu belanja lalu.
Itu hampir kumat anak kan.
Itu ibu yang saya ada, bapaknya minta pulak anak ke sana.
Gitu loh, mau kumpul orang tua.
Anak kerasan di sini, bingung lagi anak, bingung lagi.
Cuma rasa pes minggu udah.
Bapaknya panggil dengan saya pas, disenain dengan saya.
Kamu jangan gitu, Pak, saya bilang gitu.
Anak sembuh kamu di ganggu, jangan.
Sudah ada di menajak yang metia anak itu sembuh.
Pak, ini kebahasi, Pak.
Jadi saya terpaksa habis selamatan, mampir ke rumahnya anak.
Sekarang ini saya ngomong-ngomong sama saya.
Masa dia itu hari raya, insya Allah tidak bisa pulang.
Karena dia masih belum stabil mengomong sama saya.
Jadi itu sementara katanya anak, Pak.
Jadi sampai itu dengan ibu memaafkanlah dulu masalah ini.
Ya, ya, ya.
Harapan saya mudah-mudahan.
Ini yang sudah terjadi, mudah-mudahan tidak akan terulang lagi.
Jadi saya mau kepada yang mahakuasa, mudah-mudahan,
hidup saya nanti tambah tenteram dengan datangnya di ANI.
Ini harapan saya.
Harapan saya, ya. Semoga anak saya itu tidak seperti saya.
Harapan saya, ya. Semoga anak saya itu tidak seperti saya.
Spokoknya, hidupnya lebih baik dari saya, gitu, nasaya.
Jangan sakit seperti saya.
Ya, ya, sudah kelokap-kelokap mencari kerasan di sini.
Jadi kamu itu sudah perseba saya di sini.
Karena sudah keluarga kamu, nggak ada hubungan sama sekali di sini saya.
Kasi ini nggak ada.
Di waktu surat keadaan, waktu itu pun nggak ada.
Jadi kamu sudah kerja di sini aja apa?
Bila lama, saya sudah lama ya.
Dari sini itu sekitar tahun 96-an.
96-an di sini bulannya itu Agustus.
Agustus itu di sini.
Agustus akhir.
Di sini sudah sampai sekarang ini tahun 2008.
Tapi kalau memang masalah ingin pulang, ya seperti saya tadi bilang itu.
Tunggu Pak Gafur itu katanya dapat duang, katanya ya.
Cuma yang nggak tahu, kapan bulannya itu nggak tahu.
Bui, ya harus jadi tengok namanya anak atau namanya saudara, harus jadi tengok.
Tapi ya gitu saya tadi ngomong, perhatiannya nggak ada.
Ya nggak ada.
Ya saya pertilput persurat.
Tapi kadang-kadang nggak ada jawapan.
Ya nggak ada jawapan.
Banyak saya senta jadi begini sering saya itu.
Sering.
Ya saya sendirikan malu kalau gitu.
Dan hartonya perasaan di sini.
Suruh dia berhati-hati, sekarang saya bisa kerja di sini.
Suruh kemana-mana mau dia.
Suruh dekat Popoda.
Ya waw, kalau memang kayak mana ya sudah tergantung dari orang Indonesia saja.
Kalau ketemunya di mana.
Tapi saya nggak mungkin.
Saya ini ceritanya kalau yang namanya saya meninggal, saya ingin di bawah ke Jakarta sana.
Karena saya pernah pulang-pulang, nggak macam-macam di sini.
Ya kalau memang di sini ada tempat, ya di sini saja.
Kalau memang nggak bisa dibawa ke sana.
Tapi kalau memang bisa, karena di sini sudah terlalu lama saya di sini.
Ya saya minta tolong dia dikembalikan saja ke sana.
Assalamu'alaikum, Pak.
Sayang, kenapa bisa ke Jakarta, Pak?
Nggak ada, Pak.
Di sini nggak ada, Pak.
Terima kasih, Pak.
Kasi, Pak.
Dalam malam, telah duduk sendiri, ya ada teman lagi.
Terima kasih, Pak.
Terima kasih, Pak.
