Saya punya momen dari penampang, makanya penampangnya punya momen sendiri yaitu berani mati tak kekelapan.
Terima kasih kerana menonton!
Terima kasih kerana menonton!
Saya takut tapi rasa takut itu sudah biasa karena kawai jen sudah menyatu dengan diri saya sendiri.
Nama saya Aripin, saya sepatu keselupatan arah juga penambang.
Dah 26 tahun saya tidur di kawai jen selama itu, tidur di rumah juga 15 hari, separu-separu.
Di sini memang ada istilahnya yang menjaga kawai jen seperti yang menemang huni di Danau.
Saya tahu kawai jen memang ada penghuni lain, tapi dia mengerti dengan keadaan kami di sana.
Waktu dulu itu ada cecakelapa kaki, kalau kurang lebihnya itu besarnya hampir 2 atau 3 meter.
Memang kadang-kadang setiap malam, kadang-kadang waktu saya di sana itu saya sebut namanya tolong,
lindungi kami penambang dan juga pengunjung.
Kawai jen memang tempat yang eksotis bagi pengunjung, tapi kalau bagi kami sendiri sebagai raka,
kebanyakan orang-orang di sana itu kan begini kalau melihat saya memikul belirang itu.
Apa nggak ada pekerjaan lain Pak, menurut saya memang kalau bagi saya itu pekerjaan yang paling terberat di dunia.
Hidup bagi saya adalah suatu perjuangan untuk masa depan.
Kami mempunyai keturunan seperti anak, supaya anak kami itu mempunyai pekerjaan yang layak.
Dan seperti saya untuk 26 tahun, seperti mencari belirang, mikul beban berat, naik urung-bundung,
jangan sampai ikut seperti bapanya menghadapi pekerjaan yang terberat seperti di gawai jen.
Kawai jen laki-irupsi itu buat saya sangat susah sekali, karena mata penuharian saya hanya di gawai jen.
Kawai jen adalah hidup saya.
Terima kasih sudah menonton.
